SPPG KIJANG JAYA 02 Disorot!! Diduga Menu MBG Basi Dibagikan ke Siswa SD dan Balita di Tapung Hilir

  • Whatsapp

TAPUNG HILIR (KAMPAR), Redaksi86.com Belum tuntas persoalan menu basi yang sebelumnya terjadi di SPPG Lipat Kain, Kecamatan Kampar Kiri, kini dugaan serupa kembali mencuat di Kecamatan Tapung Hilir, Kabupaten Kampar.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan oleh SPPG Kijang Jaya 02 dilaporkan dalam kondisi tidak layak konsumsi. Menu karbohidrat berupa mie hun putih goreng diduga telah basi saat dibagikan kepada siswa Sekolah Dasar dan Balita pada Jum’at (10/04/2026).

Informasi ini pertama kali mencuat dari keluhan orangtua siswa SDN 013 Tanah Tinggi yang juga merupakan penerima MBG untuk Balita di Posyandu Desa Tanah Tinggi. Keluhan tersebut kemudian viral di media sosial.

Salah seorang wali murid kelas VI SDN 013 Tanah Tinggi mengungkapkan, dirinya mencurigai kondisi makanan saat hendak memindahkan menu ke kotak bekal anaknya.

“Saya cicip dulu sebelum dipindahkan, ternyata mie hun-nya terasa basi dan berlendir,” ujarnya kepada Redaksi86.com.

Ia juga menyebutkan bahwa anaknya yang bersekolah di SDN 013 Tanah Tinggi turut mengeluhkan hal yang sama sepulang dari sekolah.

“Anak saya bilang mie-nya memang sudah terasa basi sejak di sekolah,” tambahnya.

Pihak sekolah turut membenarkan adanya temuan tersebut. Kepala SDN 013 Tanah Tinggi, Mugiyanti, S.Pd, menyampaikan bahwa mie hun yang dibagikan memang terindikasi basi, meskipun belum sempat dibagikan dan dikonsumsi oleh para siswa.

“Menu karbohidrat berupa mie hun putih sebagai pengganti nasi ditemukan dalam kondisi basi. Beruntung belum sempat dimakan anak-anak,” jelasnya.

Menurutnya, pihak sekolah telah melaporkan kejadian ini kepada dapur MBG dari SPPG Kijang Jaya 02, dan pihak penyedia disebut telah berjanji akan melakukan evaluasi.

Disisi lain, keterangan serupa juga disampaikan oleh salah satu kader Posyandu Desa Tanah Tinggi yang enggan disebutkan identitasnya. Ia mengaku sempat melakukan pengecekan sebelum makanan dibagikan kepada masyarakat.

“Memang sempat dibagikan, Pak. Tapi sebelum itu kami cicip dulu karena rasanya agak aneh. Kami ingatkan yang sudah datang untuk mencicipi terlebih dahulu. Kalau dirasa tidak layak, kami sarankan jangan diambil,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sebagian warga memilih tidak mengambil menu tersebut karena mencurigai kualitasnya.

“Memang ada yang masih terlihat normal, tapi ada juga yang baunya agak berbeda. Rasanya hambar dan warnanya tidak seperti biasanya,” jelasnya.

Untuk menghindari risiko, sebagian penerima hanya mengambil lauk yang dinilai masih layak konsumsi.

“Yang diambil hanya telur, sambal merah, oseng tempe, dan timun. Itu masih aman,” tambahnya.

Lanjut sebutnya, kemarin memang saat dikonfirmasi ke pihak SPPG jawabannya mereka kekurangan bahan, makanya menunya seperti itu, tapi kalau menurut saya itu alasan yang gak tepat, harusnya kan mereka udah punya jadwal menu dan bahan-bahan yang memang harus tersedia untuk dimasak, kemarin aja kami kader awalnya gak dikasih jatah karena kurang, tapi akhirnya dapat yang diambilkan dari jatah pihak lain,” pungkasnya.

Para orangtua siswa dan kader posyandu berharap kejadian serupa tidak kembali terulang. Mereka juga menyarankan agar menu MBG untuk balita tidak disamakan dengan menu bagi ibu hamil, ibu menyusui, maupun siswa sekolah.

Pihak sekolah sendiri menegaskan bahwa program MBG sangat membantu dan disambut baik oleh siswa, namun kualitas makanan harus menjadi perhatian utama.

“Program ini sangat bermanfaat, anak-anak juga senang. Harapan kami kualitas makanan benar-benar dijaga,” tutup Mugiyanti.

Hingga berita ini ditayangkan, pihak SPPG Kijang Jaya 02 belum memberikan tanggapan resmi saat dikonfirmasi oleh tim media.

Meski demikian, tim Redaksi86.com tetap membuka ruang seluas-luasnya bagi pihak SPPG Kijang Jaya 02 untuk memberikan klarifikasi dan penjelasan terkait peristiwa ini.**

Laporan: Tim Redaksi 

Related posts