JAKARTA, Redaksi86.com — Duel Timnas Indonesia vs Saint Kitts and Nevis di FIFA Series 2026 jadi debut manis pelatih John Herdman. Kombinasi etos kerja spartan plus modifikasi taktik brilian jadi isyarat terbukanya harapan. Satu laga memang belum cukup sebagai jawaban. Namun dari performa yang mapan, tersingkap kilatan Timnas Indonesia menuju arah yang menjanjikan.
Empat kali bola bersarang di gawang lawan oleh Beckham Putra (15′ dan 25′), Ole Romeny (53′), dan Mauro Zijlstra (75′) tanpa sekalipun tim Garuda kebobolan.
Beckham dengan dua golnya layak diberi pujian. Brace yang dicetak bukan jatuh dari langit, melainkan buah kejeniusan dalam mencari ruang di celah peluang plus penyelesaian yang matang.
Sama sekali tak keliru John Herdman memasang Beckham sejak menit awal. Padahal saat namanya masuk ke dalam skuad pun, komentar miring menyasar jajaka Bandung itu karena performa sebelumnya di Timnas kurang meyakinkan.
Tapi tak ada jawaban lebih baik selain bukti di lapangan. Beckham mampu mengemban tugas dinamis sebagai penyerang sayap kiri sekaligus gelandang serang.
Kegemilangan bintang Persib Bandung itu tentu berkat kehadiran sosok lain. Dalam hal ini, Ole Romeny berperan penting untuk menggugah pemain lain agar turut benderang.
Kebebasan ruang gerak Ole Romeny jadi kunci. Pemain Oxford United itu punya daya jelajah yang luas terutama di sepertiga pertahanan lawan.
Kemampuan dribble Ole Romeny plus kualitas scanning atau pemindaian ruang membuahkan dua assist ke gol Beckham. Ole juga menyumbang satu gol di babak kedua. Eks pemain FC Utrecht itu adalah otak dalam laga ini.
Kemudian jika dipandang dalam sudut pandang yang lebih luas lagi, gerak-gerik Ole Romeny bisa maksimal karena lini tengah yang stabil. Tandem Jordi Amat dan Calvin Verdonk sebagai double pivot menyajikan keseimbangan.
Jordi Amat mampu memenangkan banyak duel udara dan mengalirkan bola. Sementara Calvin Verdonk mampu menggiring pemain tak merangsek lebih dalam meski yang bersangkutan tak banyak menyentuh si kulit bundar.
Di atas kertas, Indonesia mendikte permainan St Kitts and Nevis. Tapi jika ditelisik, skuad Garuda masih perlu divernis. Benar bahwa dominasi digores lewat penguasaan bola 61 persen, 10 shots on goal dari 16 kali tembakan, dan empat kali gol yang dilesakkan. Namun John Herdman tetap melihat ada hal yang masuk dalam daftar perbaikan.
“Kami sedang mencari cara untuk mencetak gol dari bola mati,” kata Herdman selepas laga.
Singkat dan padat, Herdman ini gol berbuah dari cara yang beragam. Ia belum puas betul meski gol Ole Romeny berawal dari sepak pojok dengan bola yang sempat berkemelut di muka gawang.
Ini berkaitan dengan laga berikutnya lawan Bulgaria. Jelas wakil Eropa itu adalah lawan terberat bagi Indonesia di FIFA Series 2026.
Peringkatnya 87 dan baru menang 10-2 lawan Kepulauan Solomon. Timnas Indonesia harus ekstra waspada jika ingin meneruskan kemenangan.
Awal laga jadi momen krusial agar tak rusak sebelanga. Sebab Bulgaria menghajar Kepulauan Solomon dengan dua gol dalam kurun waktu 13 menit.
“Ada persoalan taktik yang perlu diperbaiki. Di 15 menit awal, kami terlalu antusias. Itu yang harus dikendalikan karena Bulgaria bisa berbahaya dalam 10 menit awal. Jadi 15 menit itu adalah hal yang penting. Jika tidak, mereka [Bulgaria] akan menghukum kami,” ujar Herdman soal lawan berikutnya.
Kalimat Herdman soal ’15 menit dan hukuman’ bermakna luas. Namun masuk akal pula jika dikaitkan dengan cara Timnas Indonesia bertahan.
Herdman menerapkan pakem tiga bek di babak pertama dan empat pemain belakang di paruh kedua. Masing-masing pola berjalan sesuai rencana.
Namun, kurang konsentrasi di awal laga nyaris membuahkan gol untuk tim tamu. Begitu pula saat lawan nyaris mencetak gol di babak kedua yang berujung bola mengenai tiang gawang.
Kevin Diks yang menyisir sebagai bek sayap kanan kerap terlambat turun saat naik jauh ke zona lawan. Sedangkan Dony Tri Pamungkas di bek sayap kiri mampu lebih disiplin.
Hal itu pula yang membuatnya dipercaya main penuh. Kebetulan rekan setimnya di Persija Jakarta, Rizky Ridho juga main 90 menit sebagai dua sosok outfield yang tak tergantikan.
Kedisiplinan jadi fundamental dalam menghadapi Bulgaria. Dengan semangat kerja yang sama dan pola yang sama cerdiknya, kemenangan bisa direbut Indonesia.**
Editor: Redaksi
Sumber: CNN Indonesia






