TAPUNG HILIR (KAMPAR), Redaksi86.com — Warga Desa Tapung Lestari mengeluhkan pelayanan Puskesmas Tanah Tinggi, Kecamatan Tapung Hilir, Kabupaten Kampar, yang dinilai mempersulit proses administrasi rujukan pasien, ini memicu kemarahan keluarga pasien. Bahkan sejumlah warga meminta Bupati Kampar untuk mengganti Kepala Puskesmas (Kapus) setempat karena dugaan buruknya pelayanan.
Keluhan mencuat setelah kejadian pada Jumat pagi (8/8/2025), ketika salah satu keluarga pasien bernama Vivi hendak mengurus surat rujukan untuk Hemodialisa (HD) atau Cuci Darah orangtuanya bernama Jumino Eko Susanto ke Rumah Sakit di Pekanbaru. Kondisi Jumino yang lemah, mengalami pembengkakan, dan bergantung pada oksigen membuatnya tidak memungkinkan datang langsung ke Puskesmas Tanah Tinggi.
Vivi, anak dari Jumino, menceritakan bahwa dirinya telah mengonfirmasi ke Bidan Desa dan Mantri setempat, yang mempersilakan ia datang ke Puskesmas membawa dokumen lengkap dan menjelaskan kondisi ayahnya. Namun, sesampainya di Puskesmas Tanah Tinggi, dokter menolak memberikan rujukan tanpa kehadiran pasien.
“Saya sudah jelaskan keadaan orang tua saya yang lemah dan pakai oksigen, tapi dokter tersebut tetap bilang tidak bisa kasih rujukan kalau pasien tidak hadir. Padahal surat dari Rumah Sakit sudah jelas tertulis pasien harus cuci darah,” kata Vivi kepada media Redaksi86.com
Menurut Vivi, pihak Puskesmas justru menyarankan agar pasien dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD), meski rujukan yang dimaksud sudah spesifik untuk HD. Ia menilai sikap dokter tersebut kaku dan kurang mempertimbangkan kondisi kemanusiaan.
“Di rumah sakit saja bisa mempermudah pasien. Masa di Puskesmas malah mempersulit. Ini bukan pertama kali terjadi, sudah beberapa kali warga mengalami hal serupa,” tambahnya.
Ia mencontohkan kasus lain yang dialami warga bernama Umaeroh, yang sempat menangis karena rujukan operasi tidak diberikan, hingga akhirnya mendapat bantuan dari dokter di UGD untuk memproses BPJS.
Sementara itu, Warga mengaku kecewa karena Puskesmas, yang seharusnya menjadi pintu pertama pelayanan kesehatan, justru dinilai mempersulit administrasi. Mereka khawatir citra Puskesmas akan buruk hanya karena ulah segelintir oknum.
“Jangan sampai nama Puskesmas bobrok gara-gara satu dua orang oknum Nakes. Kami berharap Bupati Kampar segera mengevaluasi kinerja pelayanan Puskesmas Tanah Tinggi bahkan kalau perlu mengganti Kapus Tanah Tinggi dengan yang mau memanusiakan manusia,” tegas salah satu warga.
Menanggapi keluhan warga Desa Tapung Lestari terkait sulitnya mendapatkan surat Rujukan pasien hemodialisis (HD) pada Jumat (8/8/2025) pagi, Kepala Puskesmas (Kapus) Tanah Tinggi, Ns. Yessi Oktowati, S.Kep, memberikan klarifikasi resmi melalui sambungan telepon kepada awak media Redaksi86.com, Jum’at sore.
Yessi menjelaskan bahwa dirinya telah mendapatkan laporan dari Staf Puskesmas mengenai unggahan di media sosial Facebook yang berisi keluhan keluarga pasien. Ia kemudian meminta penjelasan langsung dari Tenaga Kesehatan (dokter) yang bertugas pada pagi tersebut.
Menurut keterangan dokter piket, keluarga pasien datang ke Puskesmas sekitar pukul 11.00 WIB lebih, atau menjelang berakhirnya jam pelayanan pukul 11.30 WIB. Meski begitu, Puskesmas tetap melakukan pelaporan ke Dinas Kesehatan pada pukul 13.00 WIB.
“Keluarga pasien meminta rujukan, dan sesuai SOP BPJS, pasien harus dibawa ke Puskesmas. Jika pasien tidak sanggup hadir, keluarga bisa meminta bantuan Bidan Desa desa untuk menyampaikan kondisi pasien kepada dokter di Puskesmas,” jelas Yessi mengutip keterangan dokter piket.
Dokter piket juga menyarankan, bila kondisi pasien benar-benar kritis dan memerlukan penanganan darurat, rujukan justru tidak diperlukan. “Kalau emergency, langsung saja ke IGD tanpa rujukan. Nanti pihak rumah sakit akan mengurus BPJS-nya. Rujukan justru bisa membuat pasien menunggu 2–3 jam,” kata dokter tersebut seperti disampaikan Kapus.
Terkait dugaan nada bicara keras yang membuat keluarga pasien tersinggung, Yessi mengatakan hal itu mungkin disebabkan karakter dan gaya komunikasi dokter yang bersangkutan. “Memang ada kemungkinan gaya bahasa dokter terdengar besar nadanya, tapi itu karakter beliau, bukan bermaksud menyinggung,” ujarnya.
Yessi mengakui telah terjadi kesalahpahaman (miss communication) antara pihak puskesmas dan keluarga pasien. Ia berjanji akan memfasilitasi pertemuan setelah dirinya kembali dari pelatihan di Batam.
“InsyaAllah sepulang saya dari Batam, pada hari Senin depan, akan kami dudukkan masalah ini agar clear,” pungkas Yessi.**
Laporan: Nefrizal Pili






