Program MBG di Kampar Kiri Tuai Kritikan: Dugaan Makanan Basi dan Indikasi Mark-Up Anggaran

  • Whatsapp

KAMPAR KIRI, Redaksi86.com Kualitas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kelurahan Lipat Kain, Kecamatan Kampar Kiri, kembali menuai sorotan tajam. Dugaan makanan tidak layak konsumsi hingga menyebabkan siswa mengalami sakit perut memicu kemarahan warga dan desakan agar dilakukan inspeksi mendadak (Sidak).

Insiden ini bermula pada Sabtu (4/4/2026), ketika makanan yang didistribusikan ke SD 012 dan SD 005 Lipat Kain secara tiba-tiba ditarik kembali oleh petugas dari dapur produksi sebelum sempat dikonsumsi siswa. Penarikan tersebut dilakukan tanpa penjelasan yang jelas kepada pihak sekolah.

Kondisi ini semakin memicu kekhawatiran setelah beredar foto dan informasi dari sekolah lain yang menunjukkan makanan diduga telah berubah warna dan tidak segar. Bahkan, sejumlah siswa di SDN 019 dilaporkan mengalami keluhan sakit perut setelah mengonsumsi makanan dari program tersebut.

Pihak pengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengakui telah melakukan penarikan makanan. Mereka menjelaskan bahwa makanan dimasak sekitar pukul 01.00 WIB dan didistribusikan pada pukul 07.00 WIB dalam kondisi layak. Namun, menjelang waktu konsumsi sekitar pukul 09.00 WIB, terjadi perubahan rasa dan aroma sehingga makanan ditarik sebagai langkah antisipasi.

Penjelasan tersebut justru menuai kritik keras dari masyarakat. Ketua Forum Pemuda Kenegerian Lipat Kain, Angki Mei Putra, SH, menilai kejadian ini sebagai bentuk kegagalan dalam pengelolaan program.

“Alih-alih siswa mendapatkan makanan bergizi, justru disajikan makanan yang diduga basi. Ini sangat disayangkan, apalagi dengan anggaran Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi ditambah operasional hingga Rp6 juta per hari,” tegasnya.

Angki juga menyoroti adanya dugaan mark-up anggaran serta potensi konflik kepentingan dalam pengelolaan SPPG. Ia bahkan menyebut adanya indikasi keterkaitan pengelola dengan pihak tertentu yang sebelumnya juga pernah bermasalah.

“Ini harus diusut tuntas. Jangan sampai program yang seharusnya membantu masyarakat justru disalahgunakan,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Satgas MBG Kabupaten Kampar, DR Hj Misharti, M.Ag, yang tengah menjalankan ibadah umroh di Mekkah, langsung merespons cepat dengan menginstruksikan agar dilakukan sidak ke dapur produksi.

“Kita sepakat bahwa makanan yang diberikan kepada anak-anak harus layak dan aman. Kami siap melakukan pengawasan,” ujarnya melalui pesan WhatsApp.

Ia juga menegaskan bahwa Satgas daerah memiliki kewenangan dalam pengawasan, sementara kebijakan terkait menu, anggaran, dan standar teknis berada di bawah kendali Badan Gizi Nasional (BGN) pusat.

Hingga berita ini diturunkan, masyarakat masih menunggu langkah konkret dari pihak terkait guna memastikan kualitas program MBG tetap terjaga serta tidak membahayakan kesehatan siswa.**

Editor: Redaksi
Sumber: M. Hasbi. A

Related posts