KAMPAR (RIAU), Redaksi86.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Badan Gizi Nasional Republik Indonesia kembali menuai sorotan. Kali ini, sejumlah ibu-ibu warga Desa Kota Bangun Kecamatan Tapung Hilir Kabupaten Kampar menyampaikan keluhan terkait sajian menu dari SPPG Kota Bangun yang diberikan kepada balita, mereka menilai belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan usia anak.
Dalam sejumlah testimoni yang dihimpun media Redaksi86.com, para orang tua menilai menu MBG untuk balita masih disamakan dengan menu untuk anak sekolah, baik dari segi jenis makanan maupun cara penyajiannya.
“Kalau untuk siswa mungkin tidak masalah pakai menu basah seperti sekarang. Tapi untuk balita, sebaiknya pakai menu yang lebih aman, seperti roti, susu, atau buah,” ungkap salah seorang ibu mengusulkan.
Ia menambahkan, beberapa balita yang masih berusia sekitar 11 bulan hingga 1 tahun sudah menerima menu seperti telur dengan sambal, yang jelas belum sesuai untuk usia tersebut.
“Banyak yang mengeluh, karena balita belum cocok makan yang pedas,” lanjutnya.
Tak hanya soal rasa, tampilan makanan juga menjadi sorotan. Beberapa ibu mengaku, penyajian menu dinilai kurang menarik sehingga membuat anak-anak enggan menyentuh makanan yang diberikan.
“Jujur saja, saya yang dewasa saja lihat tampilannya kurang ‘nendang’. Anak saya juga tidak mau makan, akhirnya mubazir,” kata seorang ibu lainnya.
Keluhan serupa juga datang dari orang tua yang mengaku makanan yang dibawa pulang tidak tersentuh oleh anak.
“Saya kasih ke anak, tapi tidak dimakan. Cuma telur sedikit saja,” ujarnya.
Selain itu, tekstur makanan juga dinilai belum ramah bagi balita. Sayuran seperti kol disebut kurang diminati dan dianggap kurang cocok dibandingkan jenis sayur lain yang lebih umum dikonsumsi anak-anak.
“Ibu-ibu berharap sayurnya lebih empuk dan diganti dengan yang lebih disukai balita, seperti wortel, buncis, brokoli, atau kentang,” ungkap salah satu warga.
Para orang tua pun berharap Badan Gizi Nasional Republik Indonesia dapat melakukan evaluasi terhadap menu MBG, khususnya untuk balita, agar lebih disesuaikan dengan kebutuhan gizi, usia, serta tingkat penerimaan anak.
Mereka menegaskan, program MBG sangat baik dan membantu masyarakat. Namun, penyesuaian menu dinilai penting agar makanan yang diberikan benar-benar dikonsumsi dan tidak terbuang sia-sia.
“Programnya sudah bagus, tinggal menunya saja yang perlu disesuaikan,” tutup salah seorang ibu.**
Laporan: Nefrizal Pili






