Rupiah Terpuruk, Prabowo Kumpulkan Menkeu, BI hingga CEO Danantara di Istana

  • Whatsapp

JAKARTA, Redaksi86.com Presiden RI Prabowo Subianto memanggil sejumlah pejabat tinggi sektor ekonomi ke Istana Negara, Jakarta, Senin (18/5/2026) sore, di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat.

Pemanggilan tersebut memicu perhatian publik lantaran dilakukan saat kurs rupiah menyentuh level Rp17.600 per dolar AS, bahkan sempat berada di angka Rp17.671 pada perdagangan pagi hari.

Sejumlah pejabat yang terlihat hadir di Istana Negara antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi Rosan Roeslani, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, hingga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia.

Meski demikian, para pejabat yang hadir belum memberikan penjelasan rinci terkait agenda utama rapat bersama Presiden.

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mengaku dirinya hanya memenuhi undangan rapat tanpa mengetahui secara pasti materi pembahasan yang akan disampaikan Presiden.

“Belum tahu saya, saya diundang saja nih. Nanti saja habis meeting baru kita ngomong,” ujarnya kepada awak media di kompleks Istana Negara.

Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut salah satu topik yang akan dibahas berkaitan dengan sektor energi, termasuk rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Gigawatt.

“Salah satu di antaranya juga ada terkait dengan PLTS 100 gigawatt,” kata Bahlil.

Di tengah berlangsungnya rapat tersebut, kondisi rupiah masih berada dalam tekanan kuat. Sejumlah money changer di Jakarta mencatat nilai jual dolar AS berada di kisaran Rp17.580 hingga Rp17.750.

Di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, dolar AS bahkan dijual menyentuh Rp17.750. Sementara di kawasan Cilandak, nilai tukar dolar ditawarkan sekitar Rp17.670 per dolar AS.

Pelemahan rupiah kali ini menjadi sorotan publik karena terjadi di tengah dinamika ekonomi global dan meningkatnya tekanan pasar terhadap mata uang negara berkembang.

Pemerintah dan Bank Indonesia diperkirakan akan mengambil langkah strategis guna menjaga stabilitas nilai tukar serta meredam gejolak pasar dalam beberapa waktu ke depan.**

Editor: Redaksi
Sumber: Tribunnews.com

Related posts